Hari Ibu, Bukan Mother's Day!

Di suatu pagi, dimana orang-orang di luar ramai dengan kegiatan Car Free Day (CFD), ada sekumpulan pemuda yag mengadakan diskusi tentang Kekerasan Dalam Pacaran. Diskusi itu diadakan dalam menyambut Hari Ibu.

Kebetulan saat itu saya diminta pendapat mengenai makna Hari Ibu. Tapi, sebelum saya menjawab, saya ingin tau, apakah kita semua khususnya generasi muda paham akan sejarah Hari Ibu. Ketika pertanyaan tersebut saya ajukan, ternyata mereka juga menjadi bertanya-tanya, karena selama mereka beranggapan bahwa Hari Ibu adalah hari dimana kita memberikan kasih sayang yang lebih untuk Ibu. Lalu, bagaimana dengan hari-hari yang lain?

Ya, jawaban tersebut tidak bisa langsung dianggap salah, karena selama ini sistem yang membentuk kita untuk berpikir seperti itu.  Tanpa bertanya mengapa atau bagaimana sejarahnya? Hari Ibu lebih sering dimaknai dengan memberikan bunga, memberikan hadiah, dan bahkan dengan menggantikan peran Ibu di rumah (khususnya di dapur).

Menurut saya, di Indonesia, Hari Ibu yang diperingati pada 22 Desember ini dimaknai seperti Mother’s Day yang diperingati pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Memang, di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Eropa, tradisi Mother’s Day dilakukan sebagai penghormatan terhadap para Ibu dalam mengurus rumah tangga, merawat anak dan suaminya. Pada hari itu para Ibu dibebas-tugaskan dari tugas-tugas domestik yang dianggap kewajibannya sehari-hari, seperti merawat anak dan suami, memasak, menyuci dan urusan rumah tangga lainnya. Jadi, pemaknaan Mother’s Day seperti itu merupakan perayaan peran domestik perempuan dan pengukuhan dimana posisi perempuan sebagai makhluk domestik. Di Indonesia lebih dikenal kalau tugas perempuan (Ibu) itu ya dapur, sumur dan kasur.

Coba deh mulai bertanya mengapa Hari Ibu diperingati tanggal 22 Desember. Banyak orang bilang kalau “bangsa yang besar itu adalah bangsa yang melihat kembali sejarahnya dan menghargai jasa pahlawannya”. Nah, dari situ coba kita lihat mengapa 22 Desember menjadi Hari Ibu???

Membaca kembali catatan sejarah dari Hari Ibu yang diperingati pada 22 Desember, terlihat kesan bahwa kaum perempuan dahulu memiliki semangat perjuangan yang luar biasa, tidak seperti makna Hari Ibu saat ini yang lebih seremonialnya dibalut dengan konsumerisme.

22 Desember memiliki sejarah dan pemaknaan yang sangat jauh berbeda dengan tradisi Mother’s Day. Peringatan Hari Ibu saat ini bertolak belakang dengan semangat pembebasan nasib dari kaum perempuan pada saat itu.

Komite Kongres Perempuan Indonesia

Kebangkitan Kaum Perempuan
Membuka sejarah di masa lalu, dimana kita mengenal adanya Kartini, Tan Malaka, Tirto Adhi Suryo, Rasuna Said, Dewi Sartika, Cut Mutia dan pejuang lainnya yang memulai gerakan perlawanan untuk menentang pemerintahan Belanda. saat itulah mulai bermunculan organisasi-organisasi perlawanan. Perempuan juga ikut andil dalam perlawanan khususnya untuk memperjuangkan nasip perempuan saat itu. Beberapa isu yang diangkat oleh organisasi perempuan ketika itu adalah tentang kesetaraan dalam mendapatkan pendidikan, berpendapat di publik, dan lain sebagainya.

Kongres Perempuan Indonesia
Organisasi-organisasi perempuan tersebut mulai menyadari bahwa banyak hambatan dalam perjuangan nasib perempuan. Namun, semangat juang para perempuan di kala itu sangat luar biasa. Pada tanggal 22 – 25 Desember 1928 para pejuang perempuan dari berkumpul untuk mengadakan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama. Di sebuah bangunan yang terletak di Jalan Adisucipto, Yogyakarta, yang dikenal dengan nama Gedung Mandalabhakti Winatatama, berkumpulkan organisasi perempuan dari dari Jawa dan Sumatera. Dalam kongres ini, yang menjadi agenda utamanya yaitu mengenai persatuan perempuan nusantara; peranan perempuan dalam aspek pembangunan bangsa, dalam perjuangan kemerdekaan; pernikahan usia dini bagi perempuan; dan perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita.

Tujuh tahun setelahnya, diadakan kembali Kongres Perempuan Indonesia kedua pada bulan Juli 1935. Badan Pemberantasan Buta Huruf (BPBH) dibentuk dalam kongres ini. Selain itu para pejuang perempuan juga menentang atas perlakuan tidak wajar kepada buruh perempuan di perusahaan batik Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Di tahun 1938, tepatnya pada 22 Desember Kongres Perempuan Indonesia ketiga diselenggarakan. Kongres ketiga ini memutuskan penetapan Hari Ibu yaitu pada tanggal 22 Desember. Menurut Dekrit Presiden No.316 tahun 1959, Presiden Soekarno menetapkan bahwa tanggal 22 Desember merupakan Hari Ibu.

Peringatan Hari Ibu Sebelum Rezim Orde Baru
Setelah ditetapkan bahwa 22 Desember menjadi Hari Ibu, maka tiap tahunnya masyarakat Indonesia merayakan hari tersebut. Sebelum rezim Orde Baru, perayaan Hari Ibu lebih diperingati dengan kegiatan yang memperjuangkan nasib perempuan. Seperti, perayaan Hari Ibu di Solo dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya digunakan untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Perempuan dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Hebatnya para pejuangan perempuan saat itu, mereka juga melalukan rapat umum guna meminta pemerintah melakukan pengendalian harga bahan-bahan pokok. Selain itu, di tahun 1950-an, Hari Ibu diperingati dengan mengadakan pawai dan rapat umum untuk menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung. Sejarah penting bagi kaum perempuan yakni diangkatnya sosok perempuan (Maria Ulfah) untuk menjadi Menteri Sosial yang oleh Presiden Soekarno.

Peringatan Hari Ibu Pasca-Rezim Orde Baru Hingga Sekarang
Kalau kita membaca sejarah Hari Ibu, terlihat betapa heroiknya semangat kaum perempuan pada saat itu untuk ikut berjuang. Namun di masa Orde Baru, peringatan Hari Ibu mengalami pergeseran makna dalam sejarahnya. Peringatan Hari Ibu lebih dimaknai dengan kasih sayang kepada Ibu secara lahiriah. Istilah Ibu di sini bergeser menjadi Ibu secara dometikal bahkan ada yang menganggap bahwa itu adalah kondrat untuk perempuan yang berperan penting dalam keluarga, membangun rumah tangga yang harmonis memasak dan menyediakan makan untuk keluarga, melahirkan dan mendidik anak. Jadi, makna penting perjuangan perempuan ketika itu terlupakan dan isu-isu perempuan terabaikan. Alhasil, peringatan Hari Ibu hanya bersifat seremonial budaya tanpa muatan semangat dari perjuangan kaum perempuan.

Menurut saya, merubahan sebuah tugas penting untuk mengembalikan nilai-nilai perjuangan kaum perempuan. Coba kita lihat akhir-akhir ini, betapa perempuan seringkali tidak memiliki hak atas apapun bahkan tubuhnya sendiri. Seringkali kita mendengar dan melihat bahwa perempuan hanya menjadi objek seksual dan tidak ada perlindungan dan rasa aman untuk dirinya. Kalau kita lihat, masalah yang diperjuangan kaum perempuan masa lalu tidak berbeda jauh dengan sekarang. Masalah domestik, menikah di usia dini, kesehatan perempuan karena masih banyak angka kematian Ibu melahirkan, serta permasalahan upah buruh perempuan yang sampai saat ini masih terjadi.

Semoga kaum perempuan semakin belajar akan makna Hari Ibu, sehingga tidak menelan mentah-mentah perayaannya. Silahkan baca mengenai pernyataan dari Kementerian Sosial akan makna Hari Ibu:  http://www.kemsos.go.id/modules.php?name=News&file=print&sid=943

Share: