Disclosure Pada Anak Yang HIV

Ketika orang-orang merayakan April Mop, saya lebih memilih untuk memberikan “asupan nutrisi” pada otak. Sebenarnya lebih karena sudah lama tidak ikut duduk mendengarkan dosen, hehehe. Untunglah melalui milis dari mantan fakultas saya, akhirnya saya mengikuti acara Lecture Series yang membahas mengenai: Proses Disclosure Pada Anak Yang Terinfeksi HIV di Universitas Atma Jaya, Jakarta.

Mungkin menurut beberapa orang pembahasan mengenai disclosure pada anak sudah tidak asing lagi. Tetapi menurut saya pribadi ini adalah hal yang baru saya dengar 😀 . Sebelum membahas mengenai disclosure lebih lanjut, ada baiknya kita “berkenalan” dahulu dengan istilah disclosure. Yang dimaksud dengan disclosure pada anak yakni pengungkapan status HIV pada anak yang terinfeksi HIV. Sampai saat ini, tren kasus HIV yang terjadi pada perempuan di populasi umum cenderung meningkat, sehingga perlu dipikirkan juga strategi untuk menjangkau perempuan tersebut dan menurunkan kemungkinan penularan pada anak. WHO memperkirakan, di Indonesia ada sekitar 15.000 perempuan dengan HIV yang hamil setiap tahunnya, dan sekitar 30-40% perempuan tersebut tidak mengetahui bahwa mereka telah terinfeksi.

Menurut saya, sepertinya pembahasan mengenai disclosure pada anak belum banyak dibahas. Mungkin juga belum ada penelitian yang membahas mengenai disclosure pada anak di Indonesia. Mungkin lho ya, tapi kalau memang sudah ada penelitiannya bisa berbagi dengan saya 😉 . Sebenarnya pembahasan mengenai disclosure pada anak ini merupakan hal yang penting untuk nantinya diharapkan dapat menekan jumlah penularan HIV. Karena, semakin banyak yang terbua akan status HIV, maka target untuk program pencegahan dan penularannya dapat semakin tepat sasaran. Tetapi perlu diingat, bahwa sampai saat ini di Indonesia pengakuan status HIV seseorang masih mendapat stigma dan diskriminasi oleh masyarakat.

Banyak orang masih beranggapan bahwa anak dengan HIV tidak akan bertahan sampai remaja, jadi pembahasan mengenai disclosure pada anak masih kurang dianggap penting. Disclosure pada anak seringkali dilakukan terlambat. Hal ini dikarenakan orang tua atau yang merawat anak tersebut merasa tidak siap dengan reaksi anak; lalu masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV sehingga orang tua atau yang merawat anak tersebut merasa takut untuk memberitahu kepada si anak; selain itu biasanya orang tua merasa bersalah telah menularkannya kepada si anak.

Menurut penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Thailand, bahwa waktu yang tepat untuk melakukan disclosure pada anak yakni pada saat anak tersebut berusia 10 – 12 tahun. Hal ini dikarenakan, si anak dianggap sudah mandiri. Lain halnya dengan di Indonesia, menurut survei kecil yang dilakukan oleh Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), disclosure pada anak dilakukan ketika anak berusia 15 tahun. Tetapi sebenarnya sampai saat ini belum ada patokan yang pasti mengenai usia untuk melakukan disclodure pada anak, karena kesiapan anak berbeda-beda. Proses disclosure bisa dimulai ketika anak sudah berusia > 6 tahun, diawali dengan menceritakan bahwa mereka sakit dan perlu minum obat, tanpa menceritakan secara spesifik mengenai HIV. Disclosure dapat dimulai ketika anak sudah mulai bertanya-tanya mengenai dirinya, dan diusahakan sebelum anak tersebut beranjak remaja. Karena seringkali terjadi konflik antara hubungan orangtua dengan anak di usia remaja.

Hal yang dapat menjadi pertimbangan dalam melakukan disclosure pada anak jika anak sudah mulai bertanya-tanya mengenai alasan mereka harus minum obat tepat waktu; selain itu di era-digital seperti saat ini, anak semakin mudah dalam mengakses internet, ini dikhawatirkan kalau si anak nantinya akan mendapatkan informasi yang salah dan dapat berakibat buruk bagi dirinya. Diharapkan dengan melakukan disclosure pada anak bisa memberikan alasan kepada anak mengenai kewajibannya untuk minum obat secara rutin, sehingga nantinya anak dapat lebih mandiri dalam mengurus dirinya.

Proses dalam disclosure pada anak meliputi identifikasi dengan mengetahui bagaimana interaksi/hubungan/kedekatan antara anak dengan lingkungan sekitarnya; lalu dilanjutkan dengan persiapan dimana perlu diperhatikan bahwa pengetahuan HIV dan AIDS yang dimiliki oleh orang tua atau yang merawat anak bisa memberikan jawaban yang tepat pada anak; dan dilakukan pemantauan post-disclosure dengan memberikan dukungan psikososial pada anak.

Disclosure memang membutuhkan banyak persiapan bagi orang tau atau yang merawat anak maupun bagi si anak itu sendiri. Jadi, disclosure merupakan sebuah proses yang panjang dan butuh persiapan matang.

 

Share: