Hidup Bagai Bentangan Sungai

Kecewa…

Sejak ia menyadari keberadaannya sebagai manusia. Sejak ia menyadari makna kehidupan dalam kesehariannya. Sejak ia menyadari hubungan dengan orang terdekat. Sejak ia menyadari, hingga pada saatnya ia memahami makna di balik gejolak hatinya, kecewa adalah kosakata paling pas untuk menggambarkan bagaimana situasi kehidupannya pada masa itu.

Entah dimulai sejak kapan, ia tidak pernah mengerti, dan tidak pernah mencoba mencermati. Hanya ada penggalan-penggalan adegan dan episode kehidupan yang terngiang di pikiran, ketika mencoba memanggil kembali ingatannya. Ada tema marah karena tidak mengerti mengapa ia selalu dijadikan kambing hitam. Ada tema marah karena tidak mengerti mengapa orang-orang di sekitar memintanya melakukan ini itu, tanpa ada penjelasan mengapa ia perlu melakukan itu. Ada tema lain yang lebih baik terkubur dalam-dalam, karena menyangkut kepentingan orang lain. Namun, melalui cerita ini ia ingin menyampaikan bahwa pernah ada masa di dalam kehidupannya di mana sehari-hari aktivitas hidupnya diwarnai kekecewaan yang tidak pernah bisa ia pahami dan hadapi.

Sejauh upayanya membangun ingatan masa lalu, pada masa itu, yang tercapai hanyalah ingatan masa ketika hubungan dengan Sibu yang tidak pernah baik. Entah menapa, ia tidak pernah berhasil membangun hubungan baik dengan Sibu. Bahkan, penggalan adegan ataupun episode yang menggambarkan kebahagiaan antara ia dengannya juga selalu luput dari upaya agar bisa diingat. Sekarang, ia pelan-pelan memahami mengapa itu terjadi. Tapi, pernah ada suatu masa di mana gejolak hati dengan rasa kecewa membuatnya hampir selalu selisih dengan orang lain di sekitarnya.

Sekarang, ia mengerti. Menapa ia seolah asing di antara orang lain. Menapa ia selalu merasa tidak nyaman dan kecewa ketika berurusan dengan orang lain. Menapa ia seolah tidak siap hidup dengan orang lain.

Sekarang, ia mengerti bahwa rasa marah yang pernah menjadi menu utama kesehariannya, bahwa rasa kecewa yang pernah menjadi tema yang mewarnai kesehariannya, merupakan cermin dari rasa kehilangan dan upaya untuk mendapatkan kembali rasa nyaman yang pernah dimilikinya. Selain itu, sekarang ia mengerti bahwa fenomena itu terjadi karena ia belum memiliki pengetahuan dan ketrampilan menjalin relasi, ketika dunianya tiba-tiba berbeda, ketika tiba-tiba ia berhadapan dengan situasi baru. Persoalannya, orang lain di sekitarnya juga tidak menyadari bahwa perubahan dunia itu mengganggu stabilitas dan kenyamanan dalam dirinya. Karenanya, jadilah ia yang belum cukup matang pada masa itu, menanggapi situasi tersebut dengan cara-cara instingtif yang alamiah.

Ia akan berproses sepanjang hidupnya.

Share: