Belajar Membaca untuk Anak Usia Dini Melalui Metode Montessori

Tentu tidak mudah bagi anak untuk mengenal sesuatu yang bersifat abstrak. Dalam belajar membaca, saya pribadi tertarik dan menyukai Metode Montessori dalam mengajarkan anak membaca. Metode ini memiliki beberapa perbedaan dari metode membaca pada umumnya, diantaranya:

  1. Anak tidak serta merta diberikan alat tulis untuk langsung menulis di buku, namun anak dikenalkan dengan paparan pre-writing dan pre-reading skills terlebih dahulu, seperti permainan I spy, mendengar dan menyanyikan phonic songs, menyambung kata, mengulang kalimat, mendefinisikan benda, dan sebagainya.
  2. Pembelajaran dalam membangun kata menggunakan kata-kata yang bermakna, seperti “mata”, “kaki”, dan sebagainya; bukan dengan “ba-bi-bu” atau “ta-ti-tu”.
  3. Anak dikenalkan dari hal kongkrit ke abstrak.
  4. Anak dikenalkan dengan phonic sebagai dasar menyusun kata, contohnya bunyi huruf “b” adalah “beh” sehingga saat anak menyusun sebuah kata ia tidak akan rancu. Karena jika anak dikenalkan dengan bunyu “a-be-ce-de-e-ef-ge”, maka “b-a-t-u” harusnya ditulis dan dibaca anak menjadi “be-a-te-u” (beateu).

Tahapan Kegiatan Membaca dan Menulis Dalam Metode Montessori
Ada tahapan-tahapan yang diberikan kepada anak dalam kegiatan membaca dan menulis menggunakan Metode Montessori, diantaranya:

  1. Kegiatan pre-writing dan pre-reading melalui permainan I spy, mendengar dan menyanyikan phonic songs, menyambung kata, mengulang kalimat, mendefinisikan benda, dan sebagainya.
  2. Menggunakan material metal inset untuk mengembangkan kontrol dan gerakan tangan anak saat menulis, memberikan pengalaman gerakan berlawanan arah jarum jam (dalam hal ini berkaitan dengan banyaknya huruf yang ditulis dengan arah berlawanan jarum jam), membuat garis dan warna, dan sebagainya.
  3. Menggunakan material sandpaper letter untuk mengenalkan anak pada (lambang) huruf “a” sampai “z”. Dikenalkan pelan-pelan dan secara bertahap, contohnya: 3 huruf dikenalkan setelah ingat baru berpindah ke 3 huruf lainnya. Huruf yang dikenalkan boleh secara acak. Sandpaper ini bermanfaat untuk membangun kesan otot jari-jari tangan terhadap huruf, mengasosiasikan suara phonic dengan huruf, membangun kesan visual, mengingat bentuk huruf, juga mempelajari arah penulisan huruf.
  4. Menggunakan material Large Moveable Alfabet/LMA untuk anak berlatih menyusun sebuah kata dari pengalaman sebelumnya. Setelah anak mengenal seluruh huruf melalui sandpaper letter, maka anak dapat menggunakan LMA ini sebagai sarana untuk membangun kata. Dalam membangun sebuah kata, anak diberikan benda-benda konkrit terlebih dahulu baru kemudia melalui kartu gambar. Contohnya seperti anak diberikan miniatur hewan sapi, dan tanyakan kepada anak…
    Orang tua  : “Apa ini?”
    Anak            : “Sapi.”
    Orang tua  : “Ok, ayo kita buat kata ‘sapi’, sssssss…. (pinta anak mendengarkan phonics dan mengambil huruf tersebut lalu letakkan di sebelah miniatur sapi, dan seterusnya).”
  5. Menggunakan kartu gambar untuk membangun kata, caranya seperti pada nomor 4. Penggunaan kartu baca ini sebagai “jembatan” bagi anak dari hal yang konkrit ke sesuatu yang abstrak. Sehingga, anak mampu mengetahui bahwa “objek” sapi sama dengan “gambar” sapi dan “tulisannya” adalah sapi.
  6. Menggunakan kartu gambar dan tulisan. Jika pada nomor 4 dan 5 merupakan tahapan membangun kata, maka pada tahap ini anak mencocokan kata dengan gambar.
  7. Setelah anak mampu membangun kata, maka orangtua dapat melanjutkannya dengan membaca frase, lalu kalimat dengan cara yang sama (menggunakan kartu gambar).
  8. Membaca buku sederhana yang kalimatnya pendek-pendek. Buku ini diawali dengan buku yang memiliki gambar besar-besar dan simple terlebih dahulu.

Dalam Metode Montessori, masih banyak lagi hal-hal yang diajarkan di area bahasa ini, seperti pengenalan kata benda, kata sifat, diftong, dan sebagainya. Berikut video yang ingin saya share mengenai perbedaan antara Sekolah Montessori dan Sekolah Konvensional


Tulisan ini hasil dari “Belajar Bareng Julia Sarah Rangkuti”

Share: